“ Jelang Kematian “
Ketika kami berta’ziah pada
seorang kerabat salah seorang anaknya berceritra tentang detik-detik ayahnya
menjelang kematian . Ketiaka itu mereka sedang berkumpul di ruang keluarga,
sementara ayahnya yang sakit berada di
kamar, ayahnya memanggil dari kamar, “ Lia tolong tuntun ayah mau ke luar “,
demikian ucapan si ayah, mereka yang ada di ruang tamu merespons dengan
senyum-senyum, karena mereka tahu kondisi ayahnya yang sudah tak dapat berjalan
lagi. Sekitar 15 menit kemudian anaknya yang dipanggil mencoba untuk menemui
ayahnya barangkali ia hanya ingin sekedar digeserkan posisi tidurnya, ia
menghampiri ayahnya dan ia melihat ayahnya dalam kondisi tidur yang sangat
nyenyak, namun ia curiga mengapa dadanya tidak naik turun, kemudian ia
mendekatinya dan membangunkannya, ternyata ayahnya sudah meninggal. Ahirnya
mereka menangis semua dan menyesali tak merespon keinginan ayahnya itu.
Diantara kami yang mendengarkannya memaknai ucapan dari almarhum itu, mungkin
ia sebenarnya menginginkan anaknya menuntun dengan kalimat tauhid menjelang
kematiannya.
Cerita di atas saya sampaikan
pada teman saya, ia berkomentar, bagaimana jika kita yang menjelang kematian,
lalu bagaimana orang-orang yang berada dekat menyaksikan proses menjelang ajal
itu. Lalu ia berceritra tentang pengalamannya mendampingi mertuanya yang sedang
sakit menjelang ajal, ia bersama anak-anaknya membacakan Al-quran dan
kalimat-kalimat toyibah, hingga datangnya sakartul maut dituntunnya dengan kalimat
tauhid. Keiklasan dan kesabaran keluarga dalam mendampingi orang sakit terminal
diuji, karena umumnya orang yang usdah sampai tahap penyakit achir tingkat
ketergantungannya tinggi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya; makan.minum,
kebutuhan buang air besar dan kecil, bergerak dan kebersihan diri. Bakti dan
cinta seorang istri dan anak ditantang pada saat demikian.
Mendampingi anggota keluarga yang
sedang sakit memerlukan apalagi sakit terminal (menjelang ajal), membutuhkan
kesabaran dan perhatian khusus, baiknya yang sedang sakit tidak ditinggalkan
agar ia tak kesepian dan mudah memberi bantuan jika ada hal yang diperlukan,
hal penting dan prinsip adalah pendampingan sesuai sunah, mendoakan dan jika
diketahui ada tanda-tanda sedang
mendekati ajal atau skarotul maut kita menuntunnya dengan kalimat tauhid la
illaha illalloh terus menerus diperdengarkan, terlebih jika sisaskit dapat
mengikutinya itu yang lebih apdhal. Seringkali kita menjumpai sisakit dalam
keadaan koma, yang harus menjadi catatan adalah bahwa panca indera yang terahir
hilang fungsinya adalah pendengaran, maka lakukanlah ucapan bimbingan kalimat
tauhid (talkin) terus menerus sampai azal datang. Diharapkan ucapan yang ia
dengar terahir adalah ucapan tauid laillahaillalloh alih-alih tangisan ucapan yang tak
bermanfaat. Moga jadi bantuan pengingat ketika sedang berlomba dengan setan
yang mengganggu saat ajal menjelang.
Sekali-kali
jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan
dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa
sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis
(kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. [Al Qiyamah: 26-30]
“Alangkah
dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada)
dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan
tangannya (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu !” Pada hari ini kamu dibalas
dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap
Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri
terhadap ayat-ayat-Nya”. (Qs. Al- An’am : 93).
“Ajarilah orang yang hendak mati dengan ucapan La
ilaha illallah” (HR. Muslim). Moga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar