Jumat, 05 Februari 2016



 “ Jelang Kematian “

Ketika kami berta’ziah pada seorang kerabat salah seorang anaknya berceritra tentang detik-detik ayahnya menjelang kematian . Ketiaka itu mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, sementara ayahnya  yang sakit berada di kamar, ayahnya memanggil dari kamar, “ Lia tolong tuntun ayah mau ke luar “, demikian ucapan si ayah, mereka yang ada di ruang tamu merespons dengan senyum-senyum, karena mereka tahu kondisi ayahnya yang sudah tak dapat berjalan lagi. Sekitar 15 menit kemudian anaknya yang dipanggil mencoba untuk menemui ayahnya barangkali ia hanya ingin sekedar digeserkan posisi tidurnya, ia menghampiri ayahnya dan ia melihat ayahnya dalam kondisi tidur yang sangat nyenyak, namun ia curiga mengapa dadanya tidak naik turun, kemudian ia mendekatinya dan membangunkannya, ternyata ayahnya sudah meninggal. Ahirnya mereka menangis semua dan menyesali tak merespon keinginan ayahnya itu. Diantara kami yang mendengarkannya memaknai ucapan dari almarhum itu, mungkin ia sebenarnya menginginkan anaknya menuntun dengan kalimat tauhid menjelang kematiannya.

Cerita di atas saya sampaikan pada teman saya, ia berkomentar, bagaimana jika kita yang menjelang kematian, lalu bagaimana orang-orang yang berada dekat menyaksikan proses menjelang ajal itu. Lalu ia berceritra tentang pengalamannya mendampingi mertuanya yang sedang sakit menjelang ajal, ia bersama anak-anaknya membacakan Al-quran dan kalimat-kalimat toyibah, hingga datangnya sakartul maut dituntunnya dengan kalimat tauhid. Keiklasan dan kesabaran keluarga dalam mendampingi orang sakit terminal diuji, karena umumnya orang yang usdah sampai tahap penyakit achir tingkat ketergantungannya tinggi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya; makan.minum, kebutuhan buang air besar dan kecil, bergerak dan kebersihan diri. Bakti dan cinta seorang istri dan anak ditantang pada saat demikian. 

Mendampingi anggota keluarga yang sedang sakit memerlukan apalagi sakit terminal (menjelang ajal), membutuhkan kesabaran dan perhatian khusus, baiknya yang sedang sakit tidak ditinggalkan agar ia tak kesepian dan mudah memberi bantuan jika ada hal yang diperlukan, hal penting dan prinsip adalah pendampingan sesuai sunah, mendoakan dan jika diketahui  ada tanda-tanda sedang mendekati ajal atau skarotul maut kita menuntunnya dengan kalimat tauhid la illaha illalloh terus menerus diperdengarkan, terlebih jika sisaskit dapat mengikutinya itu yang lebih apdhal. Seringkali kita menjumpai sisakit dalam keadaan koma, yang harus menjadi catatan adalah bahwa panca indera yang terahir hilang fungsinya adalah pendengaran, maka lakukanlah ucapan bimbingan kalimat tauhid (talkin) terus menerus sampai azal datang. Diharapkan ucapan yang ia dengar terahir adalah ucapan tauid laillahaillalloh alih-alih tangisan ucapan yang tak bermanfaat. Moga jadi bantuan pengingat ketika sedang berlomba dengan setan yang mengganggu saat ajal menjelang.

Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. [Al Qiyamah: 26-30]
“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu !” Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. (Qs. Al- An’am : 93).

“Ajarilah orang yang hendak mati dengan ucapan La ilaha illallah” (HR. Muslim). Moga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar